11 Maret - 11 Mei TBY Artshop menyelenggarakan Pameran Online

Share on Facebook

11 Maret - 11 Mei                    TBY Artshop menyelenggarakan Pameran Online

TBY Artshop, tempat konsinyasi seni rupa akan menyelenggarakan Pameran Seni Online tbyartshop.com bertajuk “Yang Perempuan Yang Bergerak” selama tiga bulan penuh, 11 Maret hingga 11 Mei 2012. Pameran Online ini adalah salah satu rangkaian acara yang bertajuk Membatalkan Keperempuanan dalam rangka memperingati hari perempuan internasional yang diselenggarakan oleh Organiasai Ketjilbergerak.

Pameran Online "Yang Perempuan Yang Bergerak" diikuiti oleh 26 Seniman perempuan antara lain, Agustina Tri Wahyuningsih, Arini Imani Shofia, Arya Sukma, Astuti Kusuma, Atmi Kristiadewi, Aulia Vidyarini, Bonita Margaret, Caroline Rika Winata, Deidra Mesayu, Feintje Likawati, Fitriana DK, Hastin Solikhah, Heydi Sarah, Janur Kilat, Lashita Situmorang, Lia Mareza, Mar Ledy Kadang, Nissak Latifah, NuriFY, Prima Puspita Sari, Rennie 'Emonk' Agustine, Santi Saned, Utin Rini, Wahyu Wiedyardini, Widuri, Yuni Bening.

Yoyok Widodo dalam catatan kuratorial menerangkan Pameran Online “Yang Perempuan Yang Bergerak”, cyberspace dan cyborg adalah dua pencapaian teknologi mutakhir yang mampu menghasilkan pembiakan, pengembangan, dan ketidak stabilan gender. Teknologi yang bertumpuh pada penciptaan realitas artifisial-realitas virtual pada cyberspace adalah ruang halusinasi yang tercipta dari data di dalam computer yang tersambung dalam sebuah jaringan. Cyberspace, adalah sebuah ruang yang terbentuk oleh system kendali informasi dan data, yang di dalamnya setiap orang dapat menavigasi diri sendiri yang dapat di artikan sebagai aktivitas menggunakan berbagai sarana yang di sediakan oleh system computer (ikon, inbox, e-mail, situs) tanpa tergantung pada orang atau otoritas lain. Karenanya cyberspace mengandung makna pembebasan atau emansipasi.

Pertukaran genderpun dapat terjadi dimana perempuan bisa menjadi laki-laki ataupun sebaliknya. Permainan gender ini meskipun berlangsung didalam dunia virtual, dapat memberikan efek psikologis di dunia nyata. Di cyberspace, wanita dapat menemukan kekuatan alternative, dimana cyberspace yang tanpa otoritas pihak lain adalah ruang tak bertuan, yang dapat bermanfaat ketika semakin banyak wanita dapat mencurahkan pikirannya yang tidak terlealisasikan di realitas.

Karena cyberspace adalah ruang halusinasi yang tidak berwujud, rasanya potensi pemberdayaan gender bau-baunya sih masih berada di areal emansipasi pada tingkat citra atau wacana. Wacana yang bermain di areal imajinasi atau pemikiran yang tidak membutuhkan kemampuan fisik namun mampu berinteraksi dengan banyak orang di berbagai tempat, merupakan media yang cocok untuk menggalang banyak orang dalam mendukung sebuah gerakan, termasuk gerakan membatalkan keperempuanan, yang perempuan yang bergerak, menjadikan perempuan kodrati (sesuai kodrat), atau persatuan mantan lelaki dan sebagainya.

Karena perubahan nyata yang di tawarkan cyborg (bukan virtual) itulah, terbuka juga peluang yang bisa di manfaatkan oleh beberapa wanita sebagai media alternative yang dapat mereparasi berbagai kelemahan atau kekurangan baik secara fisik, psikis, social, dan semiotik. Guna menciptakan dunia perempuan yang lebih kuat, cerdas, rasional, kreatif, inspiratif, dinamis.

Pada kekuatan teknologi di atas memungkinkan wanita untuk keluar dari batas dan menentang bahaya. Karena di cyberspace dan cyborg terbentang teritorial baru yang tak bertuan hingga memungkinkan wanita untuk bisa memanfaatkannya.Teruslah berjuang kaum perempuan!!, areal wacana adalah pintu masuk untuk ‘keluar’ (bebas mengendalikan diri), kawinkan seni dan teknologi, jauh lebih baik percaya pada Tuhan dari pada menceraikannya!!.

Tinggalkan Pesan

Nama
Email
Pesan

tby artshop